
SUARA GAIB
Kita terlahir ke dunia ini karena ayah dan ibu, namun kita sering melupakan segala jasa dan kasih sayang seorang ayah bunda, melupakan pengorbanannya, perjuangannya demi membesarkan dan memberikan nafkah anak-anaknya, semoga cerpen ini akan selalu mengingatkan kita akan semua itu.
“Ayah... aku kan sealu merindukanmu, mengenangmu dan mengingat patwamu”. Bisik jakir dalam kegelapan kamarnya, kalimat itu selalu di ulang, di ulang dan terus di ulangnya. Hembusan angin malam terasa menusuk pori-pori, malam semakin larut, sepi, sunyi. Jakir merasakan kamarnya semakin pengap, perlahan ia beranjak dari kamarnya lalu keluar kamar dan menuju sebuah batu besar di belakang rumahnya, tubuh jakir yang bersender pda batu itu terlihat samar karena sinar bulan yang redup tertutup awan.
“Ayah... tak sama dan takkan pernah sama aku mengenang kepergianmu dengan kepergian mantan-matan kekasihku yang paling ku sayang sekalipun” bisikan jakir semakin ngelantur kerinduannya terhdap almaruhm ayahnya semakin menjadi, ingatatannya tentang sosok ayah yang di kagumnya kian melekat, beberapa waktu yang lalu ia menulis sebuah cerpen, puisi tentang sosok ayahnya yang telah kaku terkena penyakit struk dan kini ia kembali menulis untuk sang ayah, namun bukan untuk di baca oleh sang ayah tercinta lagi, melainkan untuk mengenang kepergian ayah tercinta, untuk selamanya.
“Tuhan... kembalikan ayahku, aku belum sempat menebus dosaku dan berbakti kepadanya, terlalu cepat kau mengambilnya Tuhan...” butiran-butiran bening mengalir di pipi jakir.
“Ayah... kenapa kau tinggalkan aku di saat-saat aku memulai menuruti keinginanmu? Kenapa ayah!!?” jakir setengah berteriak, suaranya seolah memecah kesunyian malam. “Aku belum berbuat banyak untukmu Ayaaaaaaaaah.... Aku hanya baru memulai, belum puas rasanya ingin mengajakmu berobat kemanapun semampuku, ayah... ayah...” Ratapan, keluhan, penyesalan, menyatu dan seolah membatu di otak jakir. Malam kian larut, dari kejauhan sesekali terdengar suara kungkungan ayam bertanda menjelang berakhirnya malam.
“gruuuug... gruuuuuuuuuuuuug” Tiba-tiba jakir terlempar hampir lima meter dari tempat duduknya, tak terasa ia membuang dirinya oleh suara batu tempatnya bersender itu bergetar dan mengguncang bumi, bulu kudunya berdiri, badannya gemetar, tak lama keringat dingin mengucur di keningnya.
“Zsssiap!!” Secepat kilat bayangan kembali berkelebat di hadapan jakir
“Brug!” Kembali jakir terlempar dan tersungkur, napasnya tersengal, keringat dingin kian deras mengucur, ia meringis terasa badannya kaku.
“Jakir...Jakir...Jakir...”
“Kamu Ingat Permintaan Ayahmu Yang Terakhir...?” Kembali suara itu membuat tubuh jakir tersungkur, tergeletak, namun matanya tetap melotot mencoba mencari sumber suara. Kali inipun ia gagal menemukannya, tak lama badan jakir terasa menggigil kemudian lemas terbujur, matanya terpejam.
“Jakir... bangun nak...” suara lemah lembut sang bunda memanggil dan mengetuk pintu kamar jakir. Setelah berulang-ulang bunda mengetuk pintu namun takada jawaban, bunda mulai resah, fikirannya mengarah ke hal-hal yang bukan-bukan, seketika di kepalkannya kedua telapak tangannya kemudin beriringan dia mendobrak pintu kamar jakir. “Braak!!” daun pintu kamar jakirpun terkuak, bola mata bunda melotot mendapatkan kamar jakir yang telah kosong takada siapa-siapa.
“Jakiiiiiiiiiiiiiiiiir! Jakiiiiiir!” teriak sang bunda menyentakkan tetangga sekitar rumahnya, kemudian bunda menangis, “kemana anakku...” bunda bersungut keluar kamar, langkahnya sedikit bergegas karena bunda teringat sesuatu tentang kebiasaan anaknya yang duduk di belakang rumah dan bersender di sebongkah batu besar manakala kerinduannya terhadap ayahnya tak dapat di bendungnya.
“Jakiiiiiiiiiiiiir!!!” hanya sekali bunda berteriak kemudian menangis setelah sampai di bongkahan batu belakang rumahnya karena di dapatinya tubuh jakir tergeletak tak jauh dari bongkaha batu tersebut. Tak lama kemudian bunda memanggil para tetangga untuk minta tolong menggotong tubuh jakir ke dalam rumah.
“Bu... Jakir kenapa?” salah seorang tetangga bunda nyeletuk.
“Eh, anu... Dia, dia...” bunda seolah berat untuk mengatakan yang sebenarnya bahwa anaknya mengidap penyakit epilepsi, ayan atau entah apa namanya, jakir yang memang sejak kecilnya tidak bisa di marah, tidak bisa terkejut, tidak boleh berfikr terlalu berat membuat seolah kesannya dia anak paling di manja dari ke tiga saudaranya yanga lain.
“Ya aku ingat” tiba –tiba terdengar satu kalimat dari mulut jakir yang berangsur siuman, kelopak matanya perlahan mlek terlihat beberapa tetangganya masih mengerumuninya, dia berusaha bangun dan duduk di sanggah oleh bunda kemudian di tatapnya para tetangga satu demi satu seolah ia telah lama pergi meninggalkan rumah, sesekali ia tersenyum.
“Ayah aku ingat permintaan terakhirmu” dalam hatinya berkata lirih seolah ia menjawab “Suara Gaib” Jelang berakhirnya malam tadi yang mengingatkannya tentang permintaan ayahnya yang terakhir sebelum berpulang kepada Yang Khaliq, menginginkannya mengabdi sebagai guru walaupun hanya sekedar honor murni, entah apa motifasi almarum ayahnya hingga detik inipun ia tak pernah tau dan mungkin takkan pernah tahu, namun kini ia telah bertekad, salah satu cara berbakti kepada almarhum ayahnya adalah dengan tetap mengabdikan diri sebagai guru, walaupun ia paham dia jauh dari cukup untuk mennyandang sebutan sebagai guru.
“Kasih sayang Ayah tak terhingga dan kasih sayang Bunda sepanjang masa” bisikan hati jakir untuk yang terakhir kalinya dan kemudian mengambil handuk menuju kamar mandi untuk memulai aktifitasnya seperti biasa, meninggalkan para tetangga yang sebagian masih ngerumpi di rumahnya ia seolah menemukan hal baru hari itu, fikirannya kembali cerah secerah pagi itu.





