Halo, saya AL-Bayani
Lihat profil


September 2009

SMTWTFS
1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30

Tag

Syndicate content

Tambahkan ke My Dada

Tambahkan ke My Dada

Share your contents

De.licio.us

Ayah Maafkan Aku

04 set 2009


                                                                             SUARA GAIB



Kita terlahir ke dunia ini karena ayah dan ibu, namun kita sering melupakan segala jasa dan kasih sayang seorang ayah bunda, melupakan pengorbanannya, perjuangannya demi membesarkan dan memberikan nafkah anak-anaknya, semoga cerpen ini akan selalu mengingatkan kita akan semua itu.
“Ayah... aku kan sealu merindukanmu, mengenangmu dan mengingat patwamu”. Bisik jakir dalam kegelapan kamarnya, kalimat itu selalu di ulang, di ulang dan terus di ulangnya. Hembusan angin malam terasa menusuk pori-pori, malam semakin larut, sepi, sunyi. Jakir merasakan kamarnya semakin pengap, perlahan ia beranjak dari kamarnya lalu keluar kamar dan menuju sebuah batu besar di belakang rumahnya, tubuh jakir yang bersender pda batu itu terlihat samar karena sinar bulan yang redup tertutup awan.
“Ayah... tak sama dan takkan pernah sama aku mengenang kepergianmu dengan kepergian mantan-matan kekasihku yang paling ku sayang sekalipun” bisikan jakir semakin ngelantur kerinduannya terhdap almaruhm ayahnya semakin menjadi, ingatatannya tentang sosok ayah yang di kagumnya kian melekat, beberapa waktu yang lalu ia menulis sebuah cerpen, puisi tentang sosok ayahnya yang telah kaku terkena penyakit struk dan kini ia kembali menulis untuk sang ayah, namun bukan untuk di baca oleh sang ayah tercinta lagi, melainkan untuk mengenang kepergian ayah tercinta, untuk selamanya.
“Tuhan... kembalikan ayahku, aku belum sempat menebus dosaku dan berbakti kepadanya, terlalu cepat kau mengambilnya Tuhan...” butiran-butiran bening mengalir di pipi jakir.
“Ayah... kenapa kau tinggalkan aku di saat-saat aku memulai menuruti keinginanmu? Kenapa ayah!!?” jakir setengah berteriak, suaranya seolah memecah kesunyian malam. “Aku belum berbuat banyak untukmu Ayaaaaaaaaah.... Aku hanya baru memulai, belum puas rasanya ingin mengajakmu berobat kemanapun semampuku, ayah... ayah...” Ratapan, keluhan, penyesalan, menyatu dan seolah membatu di otak jakir. Malam kian larut, dari kejauhan sesekali terdengar suara kungkungan ayam bertanda menjelang berakhirnya malam.
“gruuuug... gruuuuuuuuuuuuug” Tiba-tiba jakir terlempar hampir lima meter dari tempat duduknya, tak terasa ia membuang dirinya oleh suara batu tempatnya bersender itu bergetar dan mengguncang bumi, bulu kudunya berdiri, badannya gemetar, tak lama keringat dingin mengucur di keningnya.
“Zsssiap!!” Secepat kilat bayangan kembali berkelebat di hadapan jakir
“Brug!” Kembali jakir terlempar dan tersungkur, napasnya tersengal, keringat dingin kian deras mengucur, ia meringis terasa badannya kaku.
“Jakir...Jakir...Jakir...”
Untuk yang ke tiga kalinya jakir tersentak, namun kini sura orang yang memanggil-manggil namanya yang mengagetkannya, tubuhnya memutar, matanya melotot memandang sekelilingnya, mencoba mencari sumber suara, namun ia tak menemukannya, daun telinganya terasa merekah ia mencoba bangun dan berdiri, tubuhnya sempoyongan.
“Kamu Ingat Permintaan Ayahmu Yang Terakhir...?” Kembali suara itu membuat tubuh jakir tersungkur, tergeletak, namun matanya tetap melotot mencoba mencari sumber suara. Kali inipun ia gagal menemukannya, tak lama badan jakir terasa menggigil kemudian lemas terbujur, matanya terpejam.
“Jakir... bangun nak...” suara lemah lembut sang bunda memanggil dan mengetuk pintu kamar jakir. Setelah berulang-ulang bunda mengetuk pintu namun takada jawaban, bunda mulai resah, fikirannya mengarah ke hal-hal yang bukan-bukan, seketika di kepalkannya kedua telapak tangannya kemudin beriringan dia mendobrak pintu kamar jakir. “Braak!!” daun pintu kamar jakirpun terkuak, bola mata bunda melotot mendapatkan kamar jakir yang telah kosong takada siapa-siapa.
“Jakiiiiiiiiiiiiiiiiir! Jakiiiiiir!” teriak sang bunda menyentakkan tetangga sekitar rumahnya, kemudian bunda menangis, “kemana anakku...” bunda bersungut keluar kamar, langkahnya sedikit bergegas karena bunda teringat sesuatu tentang kebiasaan anaknya yang duduk di belakang rumah dan bersender di sebongkah batu besar manakala kerinduannya terhadap ayahnya tak dapat di bendungnya.
“Jakiiiiiiiiiiiiir!!!” hanya sekali bunda berteriak kemudian menangis setelah sampai di bongkahan batu belakang rumahnya karena di dapatinya tubuh jakir tergeletak tak jauh dari bongkaha batu tersebut. Tak lama kemudian bunda memanggil para tetangga untuk minta tolong menggotong tubuh jakir ke dalam rumah.
“Bu... Jakir kenapa?” salah seorang tetangga bunda nyeletuk.
“Eh, anu... Dia, dia...” bunda seolah berat untuk mengatakan yang sebenarnya bahwa anaknya mengidap penyakit epilepsi, ayan atau entah apa namanya, jakir yang memang sejak kecilnya tidak bisa di marah, tidak bisa terkejut, tidak boleh berfikr terlalu berat membuat seolah kesannya dia anak paling di manja dari ke tiga saudaranya yanga lain.
“Ya aku ingat” tiba –tiba terdengar satu kalimat dari mulut jakir yang berangsur siuman, kelopak matanya perlahan mlek terlihat beberapa tetangganya masih mengerumuninya, dia berusaha bangun dan duduk di sanggah oleh bunda kemudian di tatapnya para tetangga satu demi satu seolah ia telah lama pergi meninggalkan rumah, sesekali ia tersenyum.
“Ayah aku ingat permintaan terakhirmu” dalam hatinya berkata lirih seolah ia menjawab “Suara Gaib” Jelang berakhirnya malam tadi yang mengingatkannya tentang permintaan ayahnya yang terakhir sebelum berpulang kepada Yang Khaliq, menginginkannya mengabdi sebagai guru walaupun hanya sekedar honor murni, entah apa motifasi almarum ayahnya hingga detik inipun ia tak pernah tau dan mungkin takkan pernah tahu, namun kini ia telah bertekad, salah satu cara berbakti kepada almarhum ayahnya adalah dengan tetap mengabdikan diri sebagai guru, walaupun ia paham dia jauh dari cukup untuk mennyandang sebutan sebagai guru.
“Kasih sayang Ayah tak terhingga dan kasih sayang Bunda sepanjang masa” bisikan hati jakir untuk yang terakhir kalinya dan kemudian mengambil handuk menuju kamar mandi untuk memulai aktifitasnya seperti biasa, meninggalkan para tetangga yang sebagian masih ngerumpi di rumahnya ia seolah menemukan hal baru hari itu, fikirannya kembali cerah secerah pagi itu.

images

23 ago 2009


Cerpen Politik                                                                                      

 

CELOTEH RAKYAT JELATA

 

 

Politik identik dengan kebohongan, taktik, strategi dan setrusnya. Banyak orang bosan dengan dunia ini, begitu pula sebaliknya, banyak orak yang menikmatinya, tak jarang juga menjadikannya sebagai profesi atau sebagai mata pencaharian contohnya; honsu, ifeng, uncup dan lain-lain, seorang rakyat jelata yang telah akrab dengan kehidupan politik.

Pada bulan juli 2009 saat yang di tunggu oleh honsu cs, momen ini adalah momen yang selalu di nantinya setiap lima tahun sekali di  daerahnya mengadakan pemilihan kepala daerah (bupati), honsu pun membentuk sebuah tim sukses yang di namakan Tim Independen, tim ini di namakan tim indpenden karena bukan di bentuk oleh calon(cabub) tetapi tim ini di bentuk atas inisiatif honsu dan kawan-kawan. Beberapa minggu jelang pilbub berlangsung struktur kepengurusan tim indpendenpun telah di setujui oleh salah satu pasangan cabub/cawabu; yang menjadi ketua adalah uncup, sedangkan honsu  adalah kordinator lapangan. Pada suatu malam tim yang terdiri dari semua kalangan masyarakat inipun merencanakan akan mengadakan sebuah pertemuan tertutup layaknya sidang DPR yang membutuhkan persiapan yang yang mantap. Honsupun mencari akal dengan cara mendatangi simpatisan-simpatisan yang lumayan berduit sebagai penyandang dana untuk acara tersebut, beberapa haripun honsu melaporkan pada ketua bahwa dana telah siap. Honsu bergegas menuju sepeda motornya kemudian menuju rumah pak ketua, sesampainya di rumah pak ketua, tanpa banyak bicara, ia langsung melaporkan apa yang pernah di lakukannya.

“Pak cup, saya telah keliling ke beberapa orang untuk minta dukungan sekaligus dukungan dana” honsu melaporkan hasil kerjanya beberapa hari yang lalu kepada ketuanya.

“Ok terimakasih atas kerjasamanya, semoga dalam waktu dekat kita bisa menyelenggarakan pertemuan dengan anggota tim sekaligus pembagian tugas” jawab pak uncup.  Tak Banyak yang di bicarakan, setelah laporan singkat honsupun pamitan dari rumah pak uncup.

Haripun berganti, detik berganti menit dan seterusnya, honsupun menyebar surat undangan hampir di setiap desa dan dusun pada 3 kecamatan sebagai perwakilan untuk pemantapan tim yang telah di bentuknya, tepatnya malam kamis jam 19;00 pertemuan berlangsung, di  rumah pak uncup yang sebagai ketuanya, di dalam ruangan tampak telah berkumpul beberapa orang dari setiap lapisan masyarakat diantaranya; H. Senun sebagai tokoh agamanya, rozi sebagai tokoh pemudanya dan citra sebagai tokoh perempuanya dan masih banyak lagi yang lainnya. Sekalipun pertemuan berjalan cukup alot, namun di akhir pertemuan telah di simpulkan tim inti yang berjumlah 6 orang yang akan bekerja keras untuk memenangkan sang calon.

Keesokan harinya ke enam tim intipun menghadap ke salah satu calon yang di usungnya. Di kediaman sang calon telah berkerumun masa simpatisan, ada yang duduk di teras, adapula yang di halaman bahkan ada yang berdiri di depan gerbang.

“Assalamualaikum” hampir bersamaan ke enam tim independen memberi salam ketika mmemasuki halaman rumah sang calon.

“Wa’alikummussalam, mari, silakkan duduk...” jawab sang calon yang kebetulan sedang di wawancarai oleh beberapa wartawan tentang visi misinya jika kelak terpilih menjadi bupati. Uncup, H. Senun, Rozi, One, Heni dan Honsupun di persilahka duduk.

 Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya sang cabub menemui uncup dan anggotanya.

“Maaf, bapak-bapak dan ibu darimana?” tanya sang cabub dengan sopan dan penuh wibawa.

“Kita ini  dari 3 kecamatan pak” jawab pak ucup sebagai ketua memulai pembicaraan “dan kami menyatakan diri mendukung bapak sebagai pemimpin kami di kabupaten ini” Lanjut uncup mewakili anggotanya. Tampak wajah sang cabub berseri mendengarkan penyampaian ketua dari simpatisannya ini.

“Alhamdullillah, jika demikian dan terimakasih yang tak terhingga kepada saudara-saudara yang telah menyatakan diri untuk mendukung kami.” denga cir khas bahasa halusnya, sang cabub menyambut baik maksud kedatangan uncup dan kawan-kawan. Cabub juga menyampaikan secara singkat visi misinya kepada tim independen dan sekaligus memberikan gambaran keadaan daerah yang akan di pimpinnya saat ini, yang menyankut pertumbuhan ekonominya sangat lambat, aparatur pemerintahannya yang semberawut dan pemanfaatan Sumber Daya Manusia lokalnya yang tidak di manfaatkan dengan maksimal dan sebagainya. Uncup cs pun terkadang manggut-manggut dan sesekali berdecak heran dengan perlakuan pemerintah daerah sebelumnya.

Setelah hampir 1 jam lamanya berdialog, uncup menyodorkan lembaran struktur kepengurusan tim yang di pimpinnya.

“Bagus!” salut sang cabub. “Bila perlu besok pagi sudah mulai bergerak dan mengajak keluarga, teman, sahabat sebanyak-bayanknya untuk kita bersatu membangun daerah kita” dengan sangat bersemangat cabup memberikan suport pada uncup cs.

Setelah mendengarkan respon positif dari cabub, tanpa banyak basa-basi lagi uncup cs pun berpamitan, bersalaman kemudian di bekali dengan stiker poto pasangan cabub dan cawabub yang bersangkutan. Di perjalanan ke enam tim sukses yang menamakan dirinya tim indpenden ini hanya diam, hanyut oleh fikiran masing-masing, H. Senun tampak asyik mengelus ujung surbannya yang terurai di pundaknya, sementara rozi asik dengan batang nikotin yang  terselip di sela-sela jarinya, sesekali di hisapnya kemudian hembusan asappun mengepul di dalam mobil yang di kontrak oleh timnya. Setibanya di rumah ketua mobil rencaranpun di  parkir, ada yang langsung pulang, dan ada yang beralasan mau ke rumah teman, dengan menggunakan sepeda motor masing-masing, sementara di rumah uncup yang tinggal hanya, rozi, H.senun dan honsu, mereka duduk santai di teras rumah uncup sambil menikmati hidangan kopi yang di suguhkan oleh anak gadisnya uncup yang masih berumur belasan tahun. Di tengah kesunyian tiba-tiba, rozi nyeletuk

“Besok kalau dia jadi bupati, kita jadi apa...?” pertanyaan yang sangat polos terlontar dari mulut  rozi, namun pertanyaan itu entah di tujukan pada siapa. Serentak uncup, H.senun dan honsu tertawa.

“Ha...ha...Kamu jadi tukang sapu di rumah dinasnya...” hampir bersamaan ketiganya menjawab pertanyaan rozi, namun jawabannya sedikit mengejek.

“Kamu maunya jadi apa?” uncup kembali bertanya pada rozi, sejenak ke empatnya terdiam.

“Kan setidaknya dalam kita melakukan sesuatu, mesti ada imbal baliknya, karena yang saya tahu di dunia politik ini siapapun yang kita dukung, setelah dia naik kemudian lupa akan jasa-sasa para pendukungnya, apalagi mau memikirkan rakyat yang ribuan banyaknya, ya kalu saya salah, saya mohon maaf...” rozi dengan seriusnya menanggapi guyonan teman-temannya.

“Rozi... Begini, dalam setiap pekerjaan itu pasti kita mengharap imbalannya, begitupun di dunia politik ini, namun di antara sekian banyaknya pendukung cabub ini orientasi kita berbeda-beda; ada yang mengharapkan jabatan, ada yang mengarapkan materi semata dan ada pula yang memang benar-benar militan menjadi pendukung yang berani mati demi keinginan untuk perubahan sebagaimana yang di paparkan cabub tadi.” Kembali uncup berusaha menjernihkan fikiran rozi. “Yang penting sekarang begini; kita berbuat dulu, setelah itu baru kita rencanakan kedepan” lanjut uncup lagi. Rozi hanya manggut setengah menerima apa yang di sampaikan uncup, ia berfikir; bahwa dia telah menjajaki dunia kehidupan yang sangat keras untuk kali ini, kehidupan yang identik dengan kebohongan dimana sepengetahuannya di kalangan ini banyak di temukan teman makan teman atau yang sering di sebut jeruk minum jeruk, tak peduli etika, tata krama demi sebuah tujuan.

“Ribet!,” bisik rozi dalam hati, tak lama kembali ia terdiam.

“Bagimana, apakah rozi siap melanjutkan perjuangan ini? ini demi masa depanmu juga rozi....” seolah ucapan uncup itu memberikan sedikit titik terang pada diri rozi, dimana telah 4 tahun lamanya dia mengabdikan diri sebagai tenaga honor murni di daerahnya, namun nasib belum berfihak padanya, nasibnya selalu di serabet oleh orang-orang yang kata-katanya di ibaratkan sabda.

“Yakhh... saya coba pak, lagipula saya telah terlanjur melangkah” hanya itu kalimat terakhir rozi kemudian pamitan pulang di iringi 2 temannya yang lain.

Keesokan  harinya tim yang di bentuk uncuppun berjalan dan mulai bergerak, mengadakan pertemuan, silaturrahmi, makan bersama atau apalah namanya namun pada intinya adalah kampanye atau mempromosikan sang calon atau jagoan yang akan mengikuti pilbub. Segala suka duka tak terasa, entah berdebat dengan sesama tim 1 jagoan maupun berdebat dengan tim ripal politik telah di lalui, kini hari H telah tiba. Semua tim tegang dari malam sebelumnya, terlebih lagi dari ke 6 pasangan  cabub. Semua PPS, KPPS dan warga sibuk untuk hari itu, yeyel-yel dari masing-masing jagon terdengar hampir di setiap TPS. Tak kalah serunya juga warga yang tidak kebagian kartu undangan untuk memilih, menuntut pada panitia bahkan sampi adu mulutpun tak dapat di hindari.

Pada sore hari semua hiruk pikuk pemilihanpun berakhir, namun pada akhirnya akan di adakan pemilihan putaran ke dua karena semua pasangan cabub tidak ada yang memenuhi target suara yang di tentukan, hanya dua pasanga yang akan berhak mengikuti pemilihan ulang, salah satunya yaitu pasangan yang di usung uncup cs.   Kini tim yang di pimpin uncup kembali resah mengenai dana dan strategi yang akan di gunakan dalam pemilihan putaran ke 2. rozi pun tak kalah bingungnya kaena telah sekian minggu ia meninggalkan tugas pokoknya yang seharusnya hari ini adalah akhir dari keresahannya, namun apadaya Tuhan berkata lain.

 

Bersambung ke.... “CELOTEH RAKYAT JELATA I“ ini akan menceritakan bagaimana celoteh rakyat jelata pada putaran ke 2 pilbub.... di tunggu ya jangan lupa komennya. Terimakasih. Ampure matur tampiasih...... ini haya raos/ debat kusir. Jika ada nama dan tempat maupun situasi yang mirip, itu semua bukan di sengaja.

 

Banyumulek 22 Agustus 2009

 

 

Satriawan Al Bayani

TBM

04 ago 2009

TAMAN BACAAN MASYARAKAT (TBM)
“SANGGAR BELAJAR BERSAMA”
Dusun Muhajirin. RT.15 Desa Banyumulek Kecamatan Kediri.
Kabupaten Lombok Barat.NTB. Kode Pos 83362
satriawanalbayani.blogspot.com


PERMASALAHAN YANG KAMI HADAPI DALAM PENGELOLAAN TBM

Ass. Wr. Wb.

Sebelum kami menyampaikan apa permasalahan yang kami hadapi dalam pengelolaan TBM, terlebih dahulu kami menyampaikan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada Badan Perpustakaan dan Arsip NTB, khususnya kepada Panitia penyelenggara diklat Pengelola Perpustakaan yang di laksanakan 13-22 Juli 2009 karena telah memberikan kami kesempatan menambah wawasan khususnya tentang kepustakwanan, sekali lagi terimakasih.

Kami akan paparkan sebagian permasalahan yang kami hadapi yang sifatnya mendasar, diantaranya:

1. Sulitnya dalam pengurusan perijinan Khususnya bagi kami yang mengelola TBM( Taman Bacaan Masyarakat).
2. Pengadaan Bahan Bacaan Bagi TBM yang baru berdiri.
3. Pembinaan.
4. Sosialisasi.
5. Pendanaan.

Jalan Keluar yang mungkin dapat mengatasi masalah-masalah tersebut di atas Antara Lain:

1. Pengurusan Ijin Oprasional

Mengenai kesuliatan kami tentang ijin oprasional ini kami rasakan adalah terlalu berbelit-belitnya birokrasi sehingga kami merasa sangat kesulitan dalam pengurusannya di dikpora. Untuk mengatasi ini kiranya pemerintah dapat memberikan keringanan atau kemudahan-kemudahan bagi perpustakaan yang baru saja berdiri, karena ini juga membantu perogram pemerintah dalam meningkatkan Sumber Daya Manusia di NTB khususnya.

2. Pengadaan Bahan Bacaan

Untuk mengatasi masalah ini tentunya dapat di atasi oleh Badan perpustakaan Kabupaten Propinsi atau perpustakaan Nasional karena ini menyangkut pengadaan bahan bacaan tapi sementara kami sebagai pengelola Taman Bacaan Masyarakat yang bernaung pada Dinas dikpora tentunya di bina oleh Dinas yang bersangkutan, maka jika seandainya pemerintah bisa merubah kebijakan tersebut alangkah lebih baiknya jika TBM atau apapun namanya yang menyangkut Perpustakaan Dapat di Bina Oleh Badan Perpustakaan dan Bukan oleh Dinas Dikpora setempat. Sesuai dengan Fungsinya.

3. Pembinaan

Pembinaan Dalam Taman Bacaan Masyarakat(TBM) Yang sangat berkewajiban membina kami adalah Dinas Dikpora, Namun selama ini kami tidak merasakan hal tersebut, maka jalan keluar yang dapat di tempuh adalah pemerintah dapat memberikan keleluasaan kepada Badan Perpustakaan untuk membina TBM (taman Bacaan Masayarakat) atau TB (Taman Baca) dan tidak lagi di bina oleh Dinas Dikpora. Dan kami sangat mengharapkan pembina yang bersangkuta dapat membina kami di lapangan bukan saja dengan Diklat-diklat semata namun lebih merupakan Kegiatan Rutin Bulanan Tahunan atau bahkan jika memungkinkan menjadi mingguan sehingga para pembina mengetahui persis perkembangan TBM yang bersangkutan, kami kira hal ini juga dapat meminimalisir adanya TBM yang Piktif.

4. Sosialisasi

Dalam hal sosialisasi tentang keberadaan TBM di masyarakat kami rasakan sangatlah Berat, selain karena kurangnya kesadaran tentang pentingnya meningkatkan minat baca, juga di sebabkan oleh kurangnya dukungan dari aparatur pemerintah baik tingkat Desa hingga Pusat. Intinya Pemerintah dapat menekankan pada setiap aparaturnya agar sama-sama mendukung kegiatan TBM setempat dan akan sangat menggembirakan jika di setiap desa dalam ADD dapat di alokasikan dana bagi Program TBM setempat

5. Pendanaan

Mengenai Pendanaan, dalam Undang-undang Perpustakaan 2007 di jabarkan bahwa di setiap sekolah harus mengalokasikan minimal 5 % untuk perpustakaan. Dan kami harapkan hal ini juga dapat di terapkan di TBM, sehingga desa dapat mengalokasikan 5 % dari ADD setempat.

Demikian Semoga ada manfaatnya, Amin.


Peserta Diklat Pengelola Perpustakaan 13-22 Juli 2009
Atas Nama Pengelola TBM Sanggar Belajar Bersama Banyumulek




Satriawan Al Bayani

Awan

11 lug 2009


13-22 Juli 2009 Aku kan pergi diklat Perpustakaan, so pasti akan menambah wawasan Semoga dapat terhitung sebagai amal Ibadah Di sisi-Nya. Amin...

INDAH

05 lug 2009


Ibaratkan ku bermimpi jumpa sang dewi
Khayalan seluas samudra....
Kenyataan hanya sebatas di depan mata.
Harapkan jiwa raga sang setia...
Nyatanya Imbalan dosa Menggema...
Aku yang Pendosa...
Bergelayut KARMA...

Tag: Karma

DSC00964

25 giu 2009

Bunut Ngengkang

02 giu 2009


Jalur SENARU. RINJANI

SMS Nyasar

02 giu 2009


Di muat di Lombok Post 20 April 2008

 

 

Cerpen: Satriawan Al Bayan                                                                             Maret2008

 

 

 

 

“SMS NYASAR”

 

 

 

 

            ”Ass. Maaam, aku pulang!” Teriak sang suami yang baru pulang kerja. Dengan wajah cerah sang suami memasuki halaman rumahnya yang di tumbuhi beberapa macam bunga. Tak nampak kelelahan di wajah sang suami, maklum tanggal muda. Sang suami pulang dengan membawa amplop.

 

            ” Wa’alaikumsalam, Tunggu sebentar Pi!” Teriak sang istri dari dalam kamar. Sementara menunggu sang istri membukakan pintu, sang suami masih berdiri di depan pintu kamar sambil menyanyikan lagu yang tak jelas liriknya. Tak lama kemudian muncul sang istri dari balik pintu.

 

            ”Dah pulang, pi?” Sapa sang istri

 

            ”Ya dong sayang, inikan sudah waktunya” Sang suami sedikit menerangkan dan mengecup kening sang istri tersayang sebagai ucapan selamat datang.

 

            ”Ada apa pi, kok senyam-senyum sendiri?” Tanya sang istri sambil meraih tas sang suami. ” Ya tahu lah, mam, sekarang sudah tanggal berapa” Jawab sang suami menyodorkan amplop pada sang istri tercintanya.

 

            ”O iya ya... Aku lupa pi” Sang istri membuka isi amplop dan menghitung isi amplop yang berisi honor sang suami. Jari lentik sang istri dengan lincahnya menghitung dan mulut komat kamit. ”Kok segini, pi?” Tanya sang istri heran melihat isi amplop tak sesuai dengan angka yang tertera di luar amplop.

 

            ”Kan Honorku memang segitu, mam.” Jawab sang suami singkat

 

            ”Tapi, ini... tak seperti bula-bulan kemaren?” Tanya sang istri lagi dengan alis yang di kerutkan.

 

”Oya, mam, saya lupa ngasi tahu, tadi di jalan ada sekelompok pemuda yang minta sumbangan maulid untuk sunatan masal” Sang suami menjelaskan kenapa honornya berkurang untuk bulan ini.

 

”Kok tumben, papi gak bilang dulu?” Tanya sang istri masih belum mengerti.

 

”Ah, mami... Apa semua-semua harus aku bilang dulu?” Sang suami balik tanya pada sang istri yang sepertinya meng-introgasinya, ”Sudahlah, mam, besok kita cari lagi, rizki takkan kemana” Sambung sang suami menyabarkan istri. Sang suami melangkah kekamar membuka pakaian seragamnya dan hendak melentangkan tubuhnya, setelah seharian bergumul dengan pekerjaan yang bertumpuk seolah takada habisnya.

 

”Pi, gak makan dulu?” Tanya sang istri, khawatir penyakit Mag sang suami kambuh lagi

 

”Sudah kenyang mam, tadi di tempat kerja ada demo masak dari perusahaan yang mempromosikan alat masaknya” Jawab sang suami seraya melentangkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sementara sang istri menuju ruang tamu, uring-uringan sendiri karena si buah hati juga belum bangun dari tidurnya. Sang istri meraih Hp sang suami, sang istri doyan main game, namu tangan sang istri belum sempat menyentuh hp, hp itu bersuara ”Sms, Siapa ini bang...” Ternyata nada sms dari hp sang suami, sang istripun terkejut karena tak di sangka dalam waktu yang bersamaan, ada sms masuk. Sang istri meraih hp dan membuka isi sms itu, jari lentiknyapun mulai bergoyang di atas keypad hp. Beberapa saat kemudian sang istri tiba-tiba merasakan tubuhnya lemas, kepalanya pusing dan akhirnya tergeletak di lantai, setelah membaca sms di hp sang suami.

 

”Brrugg!!!” Suara yang mengagetkan itu jelas membangunkan sang suami dari istirahatnya, sang suami keluar dari kamar sambil mengusut matanya yang masih malas untuk melek, begitu sampai di ruang tamu sang suami tersentak melihat istri tergeletak dengan hp masih di tangan dan kain sedikit sobek sampai di atas lutut. Sang suami mencoba membangunkan dan memanggil-manggil istrinya berkali-kali sambil membopongnya keatas tempat tidur. Sang suami mengusap kening dan hidung istrinya dengan minyak kayuputih. ”Mam...mam... Kamu kenapa?”

 

Selang beberapa waktu kelopak mata dengan bulu lentik sang istripun perlahan terbuka, bola mata indah sang istripun mulai menatap sang suami, seketika sang istri menangis.

 

”Mam, kamu kenapa...?” Berkali-kali sang suami melontarkan pertanyaan yang sama, namun bibir tipis, seksi nan memerah sang istri, sedikitpun tak bersuara. Sang suami membelai Rambut hitam panjang sang istri dan sesekali menciumnya.

 

Beberapa saat, sang istripun mulai angkat bicara dan berusaha bangun dari tempat tidurnya.

 

“Papi...” Suara yang indah itu seolah menggerogoti sukma sang suami.

 

“Ya, mam...” sahut sang suami dengan senyum ramahnya

 

”Jawab pertanyaan saya dengan jujur ya...” Sambung sang istri

 

”Masalah apa?” Tanya sang suami masih penasaran

 

”Kenapa gaji papi kali ini kurang?” Sang suami terbahak mendengar pertanyaan sang istri.

 

”Hahaha...Mami pingsan gara-gara honor papi yang kurang ya.?” Sang suami mencoba menjelaskan ulang tentang honornya yang kurang karena menyumbang untuk acara sunatan masal, tapi ternyata anggapan sang istri, itu bukan jawaban.

 

”Berarti jawaban papi salah” tegas sang istri, lalu terdiam sejenak, dipandangnya sang suami dengan tatapan yang dalam.

 

”Papi sudah baca sms di hp papi?” kembali sang istri melontarkan pertanyaan terakhir “Kenapa papi gak makan di rumah?”

 

”Mam, pertanyaan terakhir sudah aku jawab, kecuali yang ke dua, masalah sms aku belum baca” Jawaban sang suami dengan tenang

 

”Kalau begitu, supaya papi bisa menjawab dengan benar, coba baca sms di hp papi” Pinta sang istri. Sang suamipun mengambil hpnya dan membaca sms yang ada, ternyata ada nomor yang tanpa nama alias nomor baru yang berisi;

 

” Mas, sudah sampai rumah? maaci ya makan siangnya juga pulsanya.

 

Oya mas....kenangan kita siang ini adalah yg trindah dalam hidupku. sudah dulu ya... I LV U....”  Isi sms itu membuat sang suami tertekun, kini dia tahu apa alasan sang istri pingsan dan memburunya dengan berbagai pertanyaan. Sementara sang istri tidak berkata apapun dia langsung menuju kamar mandi setelah itu menuju kamar mengenakan celana jeans dan mengenakan baju agak ketat, badan yang aduhai itu kini telah berdandan rapi, sehingaga setiap mata pasti akan terpesona melihatnya. Sang suami yang dari tadi memperhatikan gerak-gerik sang istri tak tahu mesti ngomong apa dan mulai darimana.

 

Setelah selesai berdandan, sang istri langsung mengambil tas pakaian dan mengeluarkan pakaian dari lemari.

 

”Mam... ada apa sih...?” Suara sang suami berlahan

 

“Kok, papi nanya lagi.... kalau sms itu sudah di baca, berarti jawabannya ada disana” Jawaban sang istri ketus.

 

“Boleh aku jelaskan, mam...?” Sang suami berusaha menenangkan sang istri.

 

”Mau jelaskan apalagi!!?” teriak sang istri, suaranya kedengaran sampai tetangga sebelah. ”Semuanya sudah jelas!!!” Sambung sang istri sedikit kalap. Teriakan sang istri membuat wajah sang suami berubah merah. Tubuh dan wajah sang istri kini terlihat menyeramkan, jari jemari sang suami terkepal seolah siap menyerang, namun seketika sang suami sadar bahwa sekarang telah ada Undang-undang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU.KDRT). Yang membuat para suami-suami seperti pengecut dan membuat istri-istri tidak kenal takut. Sang suami mengurungkan niatnya dan berusaha mencari jalan keluar yang baik. Sementara sang istri masih menggerutu.

 

“ Pantas saja honor papi kurang dan tidak mau makan di rumah” Gerutu sang istri “ Wong di luar ada simpanan” Sang suami membiarkan sang istri menggerutu sepuasnya.

 

 

“Aku mencintaimu.... Lebih dari apapuuun..... walaupun tiada seorangpun yang tahu” (Ungu red).  Tiba-tiba  nada panggilan dari hp mengagetkan kedua suami istri itu, seketika itupula sang istri terdiam dan secara bersamaan keduanya menuju hp yang di letakkan di atas meja tamu, sesaat keduanya saling pandang, karena ternyata dari nomor yang mengirim sms yang membawa Malapetaka itu yang kini memanggil.

 

Sang istri meraih hp dan menyodorkannya ke sang suami.

 

“Neh terima...” Pinta sang istri. Sang suami menggeleng.

 

”Mami saja yang terima, supaya jelas siapa penyebab semua ini” Sang suami menolak keinginan sang istri. Akhirnya sang istripun menerima panggilan itu.

 

”Hallo...” Suara wanita yang lembut di kejauhan itu menambah merah muka sang istri. sang istri tak mau menjawab suara di kejauhan itu, malah kembali menyodorkan hp pada sang suami. Sang suamipun penasaran di raihnya hp dari tangan lembut sang istri dan kemudian menekan keypad hp menggunakan spiker supaya keduanya bisa mendengar.

 

“Hallo...” Suara di kejauhan itu seolah menunggu jawaban.

 

“Hallo, Dengan siapa ya?” tanya sang suami.

 

“Saya, Wulan, Saya salah tekan satu nomor, akhirnya terkirim ke nomor bapak” suara di kejauan itu menjelaskan dengan suara manja.” Tadi saya cek di kotak keluar ternyata saya salah tekan” Sambung suara itu dari kejauhan. sementara sang suami dan istri sesekali saling pandang, Tak nampak lagi wajah memerah sang istri.

 

“O gitu... Lain kali Cek-cek dulu ya mbak” Sang istri menjawab suara di kejauhan  itu. “ Oiya Bu, pak, sekali lagi saya minta maaf” suara di kejauhan pun hilang, sang istri memandangi sang suami dan tak lama kemudian memeluknya seolah tak mau di lepaskannya lagi.

 

“Maafkan mami, ya, Pi’

 

 

 

 

 

 

Cerpen buat Ikatan Suami Takut Istri(ISTI), Hehe. Trimakasih banyak Jika Cerpen ini bisa d

 

Salam hangat....

 

Banyumulek, Maret 2008

 

 

 

 

bunga

02 giu 2009


Di muat di Lombok Post 13 April 2008

 

 

Cerpen : Satriawan Al Bayani                                                   Desember 2007

 

 

 

 

Kisah Diklat

 

 

“ CINTAMU SEBATAS DIKLAT “

 

 

 

 

Pagi itu terasa cerah, tak terlihat langit mendung menutupi langit biru, sang surya menyapa seolah tertawa girang, kicau burung terdengar sahut-menyahut seolah mengisaratkan Alam telah terang, seiring orang-orang berkemas memulai aktifitas.

 

Dari sebuah rumah terdengar samar alunan musik, mengiringi beribu kaki memulai hari. Di rumah itu nampak laki-laki dengan senyum ramah, telah siap berangkat memulai harinya dengan baju lengan panjang lengkap dengan sepatu hitamnya, lelaki itu melangkah menuju sepeda motor yang telah siap menemaninya menyusuri jalan aspal.

 

Beberapa saat kemudian sepeda motorpun melaju di jalanan, di antara keramaian kendaraan lain yang lalu-lalang, sekitar 25 menit lelaki itu sampai tempat tujuan, tempat untuk memuali harinya “Tempat kerja.” Sesampainya di tempat kerja, seperti hari-hari biasa dia mengisi daftar hadir di urutan kedua dan di urutan pertama rekannya yang selalu datang lebih awal, sebut saja “Amay.” Amay adalah sahabat dekat lelaki itu. Setelah mengisi daftar hadir, lelaki itu menuju sebuah meja, di atas meja nampak kertas dan buku-buku masih berantakan, satu persatu lelaki itu menyusun buku-buku dan kertas tersebut, tiba-tiba tangannya terhenti matanya tertuju pada sebuah amplop. Diraihnya amplop, di luar amplop tertulis “PANGGILAN DIKLAT.”

 

 

“Jo, itu panggilan diklatmu hari ini pembukaanya.” Tiba-tiba di belakang Jo, telah berdiri Amay menerangkan isi amplop.

 

“Hi, May, kirain siapa,” Jo sedikit kaget. “ kok mendadak kayak begini diklatnya dan kenapa aku tidak di kasaitahu dari kemaren?” Jo melanjutkan kalimatnya.

 

“Kemarin itu, Jo pulang lebih awal, sedangkan suratnya sampai hampir jam dua-an.”

 

“O gitu iya, terus jam berapa pembukaannya ?” tanya jo lagi, yang masih ingin tahu banyak tentang info yang di sampaikan  Amay.

 

“Coba buka saja amplopnya supaya lebih jelas.” Pinta Amay seraya tersenyum ramah.

 

Jo, berlahan membuka menyobek ujung amplop, di keluarkannya isinya yang sudah tercantum jadwal dan tempat Diklatnya, selama sembilan hari, mulai dari jam 07:00 hingga 22:00 malam di gedung Ibukota Propinsi. Jo menggeleng melihat jadwal yang begitu padat, tidak dapat di bayangkan bagaimana capeknya duduk seharian.

 

“Wah! May, pembukaannya jam sore ini.” Tegas Jo menatap Amay yang masih berdiri di hadapannya. Jo kelihatan risau tidak menentu karena pekerjaan di tempat kerja masih menumpuk, belum lagi hari ini harus berangkat diklat.

 “Jo, begini saja, sekarang minta izin pada atasan untuk pulang lebih dulu untuk mempersiapkan diklatnya.” amay mencoba memberikan solusi untuk memperingan fikiran Jo, yang tidak menentu. Jo tersenyum, seolah senyumnya menunjukkan jawaban setuju sekaligus pujian buat Amay, sahabat yang selalu memberikan masukan, usul ketika Jo menghadapi kesulitan. Tanpa berfikir panjang, Jo mengajak Amay ke ruang pimpinan untu minta izin, dan beberapa saat kemudian, merekapun keluar dari ruang Pimpinan. Nampaknya mereka diberikan izin.

 “Aku antar, Jo?” Amay menawarkan jasa.

 

 “Boleh, Jika Amay tidak keberatan.” jawab Jo tidak menolak tawaran Amay.

 

Keduanya, meninggalkan tempat kerjanya menuju rumah Jo yang jaraknya sekitar 20km dari tempat kerja  dan setelah itu langsung menuju tempat diklat. Sesampainya di rumah jo, Amay heran, karena setiap kali ke rumah jo, Amay biasanya disambut oleh seorang wanita dan satu anak yang tak lain adalah Istri dan Anak Jo.

 

 ”Jo, Kok rumahmu sepi, istrimu kemana?” tanya Amay penasaran

 

 ”Lagi di rumah mertua.” . Dengan santai Jo, menjawab

 

”O gitu.”  Amaypun tak banyak tanya, karena sedikitnya dia tahu bagaimana kehidupan Jo yang selalu tidak ambil pusing dengan keadan di rumahnya, bahkan Jo rela meninggalkan anak istri demi pekerjaan dan masa depannya.

 

Jo terlihat sibuk mepersiapkan perlengkapan diklatnya sementara Amay di persilahkan duduk di halaman yang telah di siapkan tempat duduk, memang rumah jo tidak ada ruang tamunya, rumah tua yang sederhana peninggalan keluarga letaknyapun jauh dari keramaian kota atau tepatnya desa pinggiran Ibukota kabupaten.  

 

Dari luar rumah Sesekali Amay melihat Jo mondar-mandir di dalam kamar.

 

 “Ada yang bisa saya bantu jo? “ Suara Amay menyela kesibukan jo yang lagi berbenah.

 

 “O iya ada, tolong masukkan buku-buku saya dalam tas.” Sebisa mungkin Jo berusaha untuk tidak menolak Setiap tawaran Amay, Karena Jo tahu Amay cepet tersinggung jika niat baiknya di tolak.

 

 Begitulah Amay membantu Jo, keduanya memang sahabat yang seolah tak terpisahkan oleh siapapun dan oleh apapun, karena kemanapun mereka selalu berdua, dimana ada “Jo” disitu ada “Amay” begitupun sebalaiknya, sehingga rekan kerja atupun setiap mata yang memandangnya, beranggapan mereka pacaran, teman kencan, selingkuhan dan lain sebagainya. Namun keduanya tak menghiraukan semua itu, hanya mereka berdualah yang lebih tahu bahwa diantara keduanya tak ada hubungan istimewa, tak lebih dari sahabat akrab, itu saja.

 

 

Sementar itu, Jo telah siap untuk berangkat membawa semua perlengkapan diklatnya  dibantu Amay.

 

“ Kita Berangkat May...?” Tanya jo.

 

 “ Ok, Boz” Canda Amay sedikit menghibur Jo. Keduanya kembali melaju, Jo melirik jam tangannya, jarum jam telah mendekati jam 15:30. Langit terlihat mendung yang nampaknya sebentar lagi akan turun hujan.

 

 “Jo, lumayan lama ya kita tidak ketemu?” Tanya Amay dalam perjalanan.

 

” Untuk sementara May” jawab Jo singkat

 

 ”Apa perlu saya besuk ?” Amay kembali bertanya.

 

” Ah gak usah, mau besuk kayak orang sakit saja.” Di sela perbincangan mereka berdu, di atas jalan aspal nampak percikan-percikan air membasahi di beberapa titik, hujan mulai turun, Jo kebingungan karena sebentar lagi Pembukaan diklat sementara di perjalanan mulai turun hujan, lebih celakanya lagi Jo lupa bawa jas ujan.

 

 ”Jo, hujan makin lebat.” Sela Amay.

 

 ” Ya, May, begini, bukan maksud apa-apa, tapi karena ini hujan, kamu tidak usah antar aku sampai tempat diklat, lebih baik sekarang aku antar kamu pulang saja, bagaimana?”.

 

” Ok dah bagaimana baiknya.” Jawab Amay, untuk kali ini Amay mngerti kenapa jo menolak Tawaran jasanya.

 

Akhirnya di sebuah perempatan jalan, Jo berbelok kearah rumah Amay. Beberapa saat kemudian keduanya sampai depan rumah Amay.

 

 ” Aku gak mampir ya May.”

 

  Ya, tidak apa-apa, hati-hati ya.” Amay melambaikan tangannya.

 

Seraya mengucakan terimakasih, Jo berlalu dari hadapan Amay.

 

 

Tepat jam 16:00, Jo sampai di Gedung tempat diklatnya, acara pembukaan segera dimulai, Jo sedikit bergegas memasuki Gedung dimana acara pembukaan tersebut. Jo mencari tempat duduknya yang telah di bagi berdasarkan Kabupaten/Kota masing-masing. Setelah beberapa saat sempat keliling, Jo-pun menemukan tempat duduknya, di temuinya teman-teman dari kabupaten yang sama, berkenalan, basa-basi dengan teman di sekitar tempat duduknya.

 

Beberapa susunan  acarapun telah di lalui, kini, telah sampai pada puncak acara, yaitu acara pembagian kelompok dan sekaligus pembagian kunci kamar Masing-masing. Kelompok di bagi 40 orang dari sekitar 300 peserta dari 8 Kabupaten/Kota. Panitia menyebut nama lengkap Jo, Jo bergegas menuju panitia untuk mengambil kunci kamar.

 

“Aduh! maaf mbak!” Karena sedikit terkopoh, Jo membentur lengan Wanita berjilbab dengan tinggi 165-170cm, Jo terperangah

 

“Wao tinggi sekale...!?” Bisik jo dalam hati.

 

 “Ah... Gak apa-apa, maklum orang banyak.” Sambut wanita itu seraya tersenyum. Lagi-lagi Jo terperangah dengan wajah yang ada di depanya, suaranya lembut, senyumnya minta ampun, hidungnya bak bintang film india. “ Maha sempurna Ciptaan-Mu Tuhan “ Puji Jo dalam hati. Wanita itu berlalu dari hadapan Jo. Sementara itu Jo mengambil kunci kamar di panitia, lalu, Jo menaiki tangga menuju lantai dua, di depan kamar no 37, langkah Jo terhenti dan memasuki kamar itu, kini Jo sedikit lega karena acara inti untuk hari ini telah selesai dan ada perubahan jadwal dari panitia, bahwa setelah pembukaan hari ini, maka, kegiatan akan di lanjutkan keesokan harinya dengan alasan, peserta dapat istirahat untuk malam ini khususnya peserta dari kabupaten/kota yang jaraknya jauh dari tempat diklat bahkan ada peserta yang harus menyebaringi lautan.

 

Malampun tiba, karena tidak betah dalam kamar sendirian, Jo bermaksud keluar kamar, namun begitu pintu kamar terbuka, Jo tersentak seolah tidak percaya dengan apa yang di lihatnya, baru saja lewat didepannya seorang Wanita cantik, berjilbab, tinggi dengan hidung yang sangat indah, dan wanita itu memasuki kamar nomor 38 yang berhadapan dengan kamr Jo. Wanita itu tidak lain adalah wanita yang hampir di tabrak Jo saat acara pembukaan tadi sore. Jo mengurungkan niatnya untuk mencari udara segar di luar kamar, dia seolah barusaja melihat bidadari jadi-jadian. Jo masuk kekamarnya dengan wajah tak menentu, bingung dengan perasaannya sendiri. ” Apakah karena aku gampang jatuh cinta?” Ungkap jo dalam hati yang tak habis-habisnya, ”Ataukah karena Wanita itu terlalu cantik?  entahlah.....” Di tatapnya langit-langit kamar berhayal tentang wanita itu, tak lama kemudian, iapun terlelap.

 

 

Keesokan harinya, di pagi buta Jo mempersiapkan diri untuk kegiatan hari ini yang di sesuaikan dengan jadwal dari panitia. Begitu semua terasa sudah siap,  Jo menuju ruang sarapan yang telah disiapkan, setelah itu baru menuju ruang kelas, layaknya pelajar atau mahasiswa yang siap menerima pelaajaran dari guru atau dosen. Begitu sampai di kelas hati Jo seolah Berteriak girang karena ternyata wanita yang di kagum-kaguminya itu berada di kelas yang sama dengannya. Jo merasa seperti murid baru saat di bangku SMA, tidak ada teman akrab semua teman baru.

 

Tidak lama menerima materi dari instruktur diklat, waktu istirahatpun tiba dan di saat semua peserta keluar kelas Jo mencari-cari kesempatan supaya bisa mengenal sang bidadari pujaannya itu.

 

”Hi! Kenapa tadi di kelas kamu lerak-lirik saya?” Tanya wanita itu. Jo tengak tengok kiri kanan, tidak ada orang selain mereka berdua.

 

”Mbak bicara sama saya...?” Jo balik bertanya pada wanita yang ada tepat di belakangnya.

 

”Ya iyalah... sama siapa lagi!” tegas wanita itu. Jo seolah tak percaya jika wanita itu tiba-tiba bicara dengannya. Keduanya menuju pohon yang rindang di halaman gedung yang telah di sediakan tempat duduk serta minuman bagi peserta.

 

”Oya dah mbak, kenalkan, saya Jo” Jo memperkenalkan diri dengan mengulurkan tangannya seolah tidak sabaran ingin mengenal sang pujaan.

 

”Namamu bagus ya, Nama saya Endang” Wanita itupun menyebut namanya.

 

”Namaku bukan bagus tapi, Jo ” Jo sedikit melawak. Endang hanya tersenyum.

 

Perkenalanpun berjalan lancar, tanya alamat sampai saling tanya nomor ponsel. Keduanya begitu cepat akrab, saling berbagi canda dan tawa seolah teman SMA kemudian bertemu di acara reuni. Begitu selanjutnya, pertemuan mereka menjadi lebih sering keduanya saling mencari apabila ada tugas dari insruktur.

 

Pada suatu hari semua peserta diklat di istirahatkan lebih awal dan malamnya tidak ada kegiatan. Sehabis magrib, Endang mengetuk pintu Jo.

 

”Jo!” Teriak Endang

 

”Ya sebentar!” Sahut jo dari kamarnya. Tak lama kemudian Jo muncul dari balik pintu kamarnya, Jo terpaku, matanya tak berkedip.

 

”Ya Tuhaaan....! sempurna ciptaan-Mu” Bisik Jo dalam hati karena di depan pintunya telah berdiri, Endang dengan anggunnya, seolah akan pergi kepesta.

 

”Jo, kok bengong begitu?” Tanya Endang heran. Jo tersentak dengan suara lembut Endang.

 

”Ah gak... cuman kagum saja” Pujian jo membuat Endang tersipu.

 

”Kagum kenapa...?” Endang seolah tidak mengerti dengan pujian Jo

 

”Malam ini, gedung ini mendapat anugrah yang indah, di huni oleh Bidadari” Gombal jo makin menjadi membuat Endang risih dan hampir lupa apa tujuannya mengetuk pintu, Jo.

 

”Eh, Jo, Kita ke mall yuk..!?” Ajak Endang ” Antar saya beli sendal” Lanjut Endang dengan harapan Jo mau mengantarnya.

 

”Boleh... Dengan senang hati” Jawab jo tak menolak ajakan Endang. Hati Jo berbunga-bunga karena waktu yang di tunggu-tungu akhirnya datang juga, ia mengambil jaketnya dan langsung mengajak Endang ke tempat parkir, kemudian keduanyapun melaju di jalan menuju mall. Di perjalanan mereka tak banyak bicara. Tak lama merekapun sampai di pelataran parkir mall. Jo mengajak Endang keliling mall untuk mencari sendal, karena panggilan diklat yang mendadak membuat Endang lupa membawa sendal cadangan. Sementara jika Endang pulang untuk ngambil sendal, jarak tempat diklat dengan rumahnya, Butuh sekitar 15 jam itupun jika arus gelombang laut normal serta mendapat kapal ferry yang bagus.

 

Tampaknya mereka tidak mendapatkan apa yang dicari, karena keduanya keluar dari mall dengan tangan tak membawa apa-apa, tidak ada yang sesuai dengan selera. Kini giliran mereka mencari makan, mereka bosan makan di gedung, ikannya yang itu-itu saja. Tapi sayang sesampainya di pelataran parkir, Ban motor Jo gembos. Keduanya kelihatan resah, seketika wajah Endang yang bak Bidadari itu berubah menjadi muram. Jo dan Endang berjalan beriringan mencari tukang pres ban, setibanya di pintu samping mall, jo kaget karena beberapa tetes air mata mengaliri pipi mulus Endang.

 

” Kamu nangis?” Jo menghentikan langkahnya, heran kenapa Endang tiba-tiba menangis. Sementara Endang tak menjawab, ia hanya terus menangis di belakang Jo dan mengikuti langakah Jo yang menggeret motornya. Kini senyum Endang telah pudar, mata yang tadinya bening laksana embun pagi yang menyejukkan setiap mata yang memandangnya kina berubah memerah, air mata Endang membuat fikiran Jo makin tidak karuan.

 

”Endang, mau naik taksi...?” Jo menawarkan solusi.

 

”Gak berani,” jawaban Endang di sela isak tangisnya yang makin menjadi karena terasa malam makin larut, ”aku kan gak kenal daerah sini” sambung Endang lagi sambil sesekali mengusap air matanya yang mengalir di pipi mulusya.

 

”Aku pernah kerja di taksi, Jadi, aku banyak kenal pengemudi taksi, kamu tidak bakalan di ganggu atau di bawa kabur.” Kembali Jo berusaha menenangkan Endang walaupun fikirannya juga tak menentu, Jo ingin Endang tersenyum lagi, bercanda lagi.

 

”Pokoknya aku gak mau!” Kembali tawaran jo di tolak Endang, namun jo tak putus asa.

 

”Kalau begitu aku temani naik taksi dan motorku aku titip di tukang pres ban, bagaimana?” Desak jo lagi. Untuk yang ketiga kalinya tawaran Jo di tolak Endang. Kepala Jo terasa mau pecah, harus bagaimana lagi, semua usahanya sia-sia.

 

”Pergi dah tambal bannya, aku tunggu disini” Kini giliran Endang mencoba menawarkan jalan keluar. Jo tak menolak karena tak tahu mesti bagaimana lagi.

 

”Kalau begitu, tunggu aku di PKL itu” Jo menunjuk PKL yang tidak jauh dari tempat mereka berdua. Jo berlalu dari hadapan Endang sambil menggeret motornya. Begitu sampai di tukang pres ban, Jo mencoba menghubungi ponsel Endang berkali-kali, tapi tidak ada jawaban, akhirnya Jo memutuskan untuk menjemput Endang dengan jalan kaki. Jo sedikit berlari, ia tak ingin Endang lama menunggu dan melakukan hal-hal yang di luar dugaannya, begitu dekat PKL, hati Jo lega ternyata Endang masih menunggunya.

 

”Saya telpon kok tidak di angkat?” tanya Jo yang masih engos-engosan. Endang seolah tak menghiraukan pertanyaan Jo, malah dia balik bertanya.

 

”Dimana tambal bannya...?” suara Endang lirih menggugah hati jo, ingin rasanya jo memeluk tubuh indah itu dan memanjakannya supaya tidak menangis lagi, namun apa daya ini baru permulaan.

 

”Tak jauh kok, kita bisa jalan kaki” Jo menjelaskan. Endang beranjak dari tempat duduknya mengajak Jo kembali ke tukang pres ban. Yang terdengar hanya lanngkah mereka, keduanya hanya diam, hanyut oleh fikiran masing-masing. Sesampainya di tukang pres ban, motor jo telah siap, Jo langsung menyodorkan ongkos dan langsung mengajak Endang kembali ke gedung, tak sepotong katapun keluar dari bibir mereka, keduanya hanya diam. Setelah sampai di gedung, Endang turun dari boncengan Jo.

 

”Jo, terimakasih banyak dan maafkan saya”  Hanya itu kalimat yang keluar dari bibir tipis indah Endang, dan berlalu meninggalkan Jo. Jo semakin tidak mengerti ”Tadinya dia kesal, tidak mau bicara dan hanya menangis, tapi sekarang malah berterimakasih, mohon maaf dan tersenyum” Gumam Jo tak habis fikir. Jo menaiki tangga menuju kamarnya, dia linglung, tenaga dan fikirannya malam ini telah terkuras habis, di kamarnya dia hanya bengong di temani sahabat setianya, sang pengurang usia (Rokok). Tiba-tiba Hp Jo berbunyi, satu sms masuk, Jo membuka sms dan nampak di layar ; ”Jo... Aku tunggu di ruang tengah, kita bikin rujak.” Sms itu ternyata dari Endang. Jo berjalan ke ruang tengah dengan sisa-sisa tenaga yang ada, sesampainya disana ia di sambut dengan tawa renyah Endang dan beberapa teman lainnya. Jo mengernyutkan alisnya tak percaya kini Endang telah tertawa girang dengan mata yang masih bengkak. Begitu Jo duduk di hadapan Endang, di teras ruang tengah, teman-teman yang lain meninggalkannya satu persatu.

 

”Endang ada apa ini...?” tanya Jo masih penasaran

 

”Sekali lagi saya minta maaf ya, Jo” Suara endang sedikit serius ” Aku telah membuat Jo resah” sambungnya lagi di sertai ciri khasnya dengan senyum indah seolah menambah setamina Jo, yang tadinya terkuras gara-gara geret motor.

 

”Gak apa-apa... Aku paham kamu takut”

 

”Ya memang aku takut, tapi aku gak marah kok, hanya saja aku khawatir kamu meninggalkan aku di mall dan aku gak kenal daerah sini, daaan... aku kira kamu sengaja nggembosin ban motormu dan menculik aku.”

 

”Ha haha..!” Giliran Jo yang tertawa terbahak setelah Endang menjelaskan kenapa dia tiba-tiba menangis di mall.

 

 

Kini tibalah hari terakhir bagi peserta diklat acara penutupanpu di gelar dengan acara riang-ria, hiburan musik, tarian daerah dan ada pula wakil peserta yang menyampaikan pesan dan kesan kala diklat. Di sela acara, Jo duduk di belakang Endang.

 

”Endang, sudah pesan ticket...?” Tanya Jo di sela hingar bingar hiburan.

 

”Sudah, itu busnya sudah nunggu di depan,”

 

“O begitu” jawab Jo singkat

 

“ Emang kenapa, Jo?”

 

” Ah gak. Aku hanya tidak ingin kamu melupakan kenangan semalam” Suara Jo seolah memberatkan langkah Endang untuk pulang. ”Dan aku tidak akan lupakan rasa Rujak tengah malam itu” Sambung Jo lagi.

 

”Ha haha... Aku juga takkan melupakan rasa rujak itu karena ini  adalah NGIDAM anak pertamaku” Endang menjawab dengan tenangnya.

 

”Apa, Ngidam!!!?” Tanya Jo tak percaya ”Kan kita tidak pernah ngapa-ngapaen?” Jo menyambung kalimatnya.

 

”Ya iyalah aku gak ngapa-ngapain sama kamu, tapi aku ngapa-ngapain dengan suamiku di sebrang sana” Jawaban Endang membuat Jo lupa diri, tatapannya kosong, telinganya seperti tuli, tak mendengar dan menghiraukan hiburan yang di tampilkan panitia. Jo seolah menyesali pertemuannya, ” kenapa aku tidak tanya dari awal ya?” tanya Jo dalam hati. Di penghujung acara, Endang bersalaman dan mencium tangan Jo.

 

”Jo, aku takkan melupakan sahabat yang baik sepertimu” ucap Endang dengan tangan jo yang masih di genggamnya. ”Salam buat istrimu, Jo” lanjutnya lagi.

 

”Salam juga buat suamimu” Jo pun titip salam buat suami Endang. Jo berbisik seraya berbalik berangkat pulang ”Cintamu Sebatas Diklat.”

 

Itulah kalimat terakhir mereka berdua, kalimat perpisahan. Mereka kembali kekeluarga masing-masing, Lautan membentang menjadi jarak di antara mereka namun bukan berati mereka putus hubungan. Terakhir kali Jo menghubungi ponsel Endang, Endang memberinya kabar bahwa kandungannya telah sembilan bulan, tinggal menunggu hari.      

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Banyumulek Desember 2007

 

 

 

 

SBB

02 giu 2009


Sanggar belajar di pedesaan yang fasilitasnya sangat jauh dari cukup, terlebih lagi perhatia pemerintah daerah sangat minim.

Sanggar belajar di pedesaan yang fasilitasnya sangat jauh dari cukup, terlebih lagi perhatia pemerintah daerah sangat minim.

 

PKBM vs TBM LOMBOK BARAT

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat), Pendidikan non formal ini begitu menjamur sejak beberapa tahun yang lalu, dana hibbah kiri kanan mengucur, masyarakat sibuk mendirikan lembaga yang di namakan PKBM ini, degan tujuan pemberantasan buta aksara dan menuntaskan Wajib Belajar(wajar) 9 tahun yang di canangkan pemerintah, proposal tercecer sana- sini, bahkan tak jarang proposal yang di tolak kita temukan sebagai pembungkus bawang merah atau pembungkus kacang rebus di pasar-pasar tradisional.  Paket A, B, C mungkin hingga paket Z istilah yang di gunakan dalam menyetaraan tingkat pendidikan ; Paket A setingkat sekolah dasar(SD/Mi), Paket B, setingkat sekolah menengah pertama(SMP/MTs) dan Paket C setingkat sekolah menengah atas(SMA/SMK/MA).  Sedangkan Paket Z adalah Paket yang di selenggarakan oleh PKBM-PKBM yang hanya menyelenggarakan kegiatan belajar menjelang Ujian di laksanakan, namun demikian siswanya lulus semua dan rata-rata warga belajarnya mendapat nilai A,B,-A,B. Ujian bagi PKBM di selenggarakan biasanya setelah Ujian Nasional pada pendidikan Formal. Sejak tahun 1994 pemerintah menggulirkan program ini dan sampai dengan akhir 2007 jumlah PKBM di seluruh Indonesia Berjumlah 4956.  pemerintah mengharapkan jumlah itu akan bertambah.

TBM (Taman Baca Masyarakat) atau sebut saja perpustakaan bagi masyarakat. Awal-awalnya masyarakat mengenal TBM telah tergabung dalam PKBM dan beberapa waktu kemudian TBM bisa berdiri sendiri namun istilah ini tidak begitu di kenal dalam tatanan masyarakat bawah karena keberadaannya bisa di hitung dengan jari khususnya di daerah lombok barat. Selain di sekolah-sekolah masyarakat hanya mengenal perpustakaan hanya ada di tiap-tiap kabupaten dan propinsi atau yang lebih di kenal dengan sebutan Pusda(Perpustakaan Daerah). Jika TBM di bandingka dengan keberadaan PKBM  maka bandingnya; 20 banding 1, TBM sangat jauh ketinggalan. Ini di sebabkan kurangnya sosialisasi oleh pihak terkait dan minimnya keberadaan TBM di lombok barat. Minimnya keberadaan TBM khususnya di lombok barat ini juga di sebabkan oleh ribetnya pengurusan izin oprasional bagi TBM, persyaratan atau ketentuan yang harus di penuhui terlalu menuntut, contohnya; TBM mendapatkan izin oprasional harus mempunyai ; Ruangan sekian kali sekian, mempunyai koleksi bacaan fiksi dan non fiksi sekian, harus mempunyai unit usaha, rak buku sekian, bangku baca dan meja baca sekian juga tidak kalah pentingnya MCK. Lagi-lagi kita harus menyalahkan system yang ada, karena tidak berpihak pada kalangan masyarakat tingkat bawah, tidak sesuai dengan keadaan di lapangan, kenapa kita mengatakan demikian? Karena jika ketentuan ini di terapkan pada masyarakat perkotaan atau tatanan masyarakat menengah ke atas mungkin tidak akan terlalu sulit, namun bagaimana jika ketentuan ini di terapkan di kalangan masyarakat pedesaan atau masyarakat kelas bawah, apa mungkin?. Jangankan untuk ruangan perpustakaan tempat tidurpun masih di emperan, jangankan untuk sempat membaca kesempatan istirahat siangpun tidak ada karena harus mencari uang untuk kebutuhan sehari-hari dan apalagi menginginkan MCK sedangkan masyarakat masih ada yang (maaf) buang air di kali. Inilah beberapa ungkapan masyarakat yang kita dengar ketika kita tanyakan bagaimana pendapatnya tentang TBM. Jika kita berfikir logis, mendirikan TBM di pedesaan merupakan suatu hal yang sangat di ragukan, karena menyangkut kelancaran program yang di rencanakan, Namun tidak ada salahnya kita mencoba menerapkan pribahasa yang sering di ucapkan oleh guru-guru kita sejak SD; “Dimana ada kemauan disitu ada jalan” atau “Masih banyak jalan menuju roma”.

Agar program ini bisa berjalan di seluruh lapisan masyarakat, dari masyarakat tingkat bawah hingga atas maka hendaknya sang penentu kebijakan menyesuaikan atau bisa membuat pengecualian bagi kalangan masyarakat bawah mengenai ketentuan atau persyaratan mendidirikan TBM maupun lembaga lainnya yang sifatnya membangun dan meningkatkan mutu sumber daya manusia(SDM) lombok barat khususnya. Ini demi kemajuan kita bersama dan agar kita dapat menghilangkan kesan bahwa lombok barat adalah kantung terbesar tingkat buta aksara di NTB, pernyataan ini di sampaikan oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat dalam acara Pelatikan Bupati Lombok Barat masa jabatan 2009-2014. Lebih jauh juga bapak gubernur menyampaikan bahwa lombik barat di kenal dengan pelayanan dan disiplin aparatur yang sangat semerawut. Semoga birokrasi tidak akan mematahkan niat masyarakat yang ingin membangun daerahnya secara sungguh-sungguh Dan semoga Bupati kita yang baru dapat membuat trobosan-trobosan baru untuk menghilangkan kesan tersebut, Amin. Selamat Datang Pemimpin Baru.

 

 

 

 

Penulis

 

 

 

 

Satriawan Al Bayani

 

GTT Bimbingan dan Konseling SMAN 2 Labuapi. Lombok Barat

 

 

GTT

02 giu 2009

“HIMNE GURU”

 

LIRIK PELIPUR LARA

 

 

 

 

18 Maret. 2009

 

 

 

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru

Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku

Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku

Sebagai prasasti terimakasihku

Tuk pengabdianmu...

 

 

            Jika Lirik Himne Guru yang di ciptakan oleh Sartono ini di lantunkan pada acara-acara tertentu, tidak jarang para pendidik, siswa, masyarakat luas merasa terharu bahkan sering kaum ibu-ibu tak sadar meneteskan air mata yang seolah-olah menggerogoti sukma, lirik sakral ini membawa kedamaian jiwa setiap kali di lantunkan. Para guru pun merasa teristimewakan dan seakan lupa seberapa besar gaji atau honor yang didapat, lupa akan berapa banyak sekolah tempatnya mengabdikan diri dan lupa akan beban hutang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sebagai bekal mencerdaskan anak-anak bangsa; ada yang sampai rela menggadaikan harta benda bahkan juga menggadaikan SK. Himne guru  ini mampu membuat kita mengambang-ambang.

Tugas dan Tanggungjawab Guru

 

             Dalam kamus besar bahasa indonesia; Guru adalah orang yang pekerjaan atau mata pencahariannya, profesinya mengajar. Berdasarkan pengertian di atas tentu tugas guru adalah mendidik, mengajar, membimbing, melatih, oleh sebab itu tanggung jawab keberhasilan pendidikan berada di pundak guru. Guru ibarat pengemudi taksi atau angkutan umum, mau kemana arah dan haluan kendaraan diarahkan, bila juru mudinya pandai dan terampil, maka kendaraan akan melaju selamat sampai tujuan, tikungan  dan jalan batuanpun dapat dilaluinya dengan tenang dan tanggungjawab, demi kepuasan penumpangnya. Oleh karena itu, untuk menjadi seorang juru mudi harus melalui pendidikan dan latihan khusus, serta dengan memiliki keahlian khusus. Demikian pula halnya seorang guru, agar proses pembelajaran berhasil dan mutu pendidikan meningkat, maka diperlukan guru yang memahami dan menghayati profesinya, dan tentunya guru yang memiliki wawasan pengetahuan dan keterampilan sehingga membuat proses pembelajaran aktif, guru mampu menciptakan suasana pembelajaran inovatif, kreatif, dan menyenangkan. Untuk menjadi guru profesional juga memerlukan pendidikan dan pelatihan serta pendidikan khusus. Beratnya tanggung jawab bagi guru menyebabkan pekerjaan guru harus memerlukan keahlian kusus. Untuk itu pekerjaan guru tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang diluar bidang pendidikan, sehingga profesi guru paling mudah terkena pencemaran. Sekali guru berbuat salah maka akan berdampak terhadap dunia pendidikan, demikian pula sekali guru salah mengajarkan ilmu kepada anak didiknya, maka akan berdampak dan berimbas kepada satu generasi.

Hak Guru

 

Undang-undang 14 tahun 2005 , menegaskan tentang Hak Guru sebagai berikut :

1. Memperoleh penghasilan diatas hidup mnimum dan jaminan kesejahteraan sosial.

2. Mendapatkan promosi

3. Memperoleh perlindungan dalam melaksanakan tugas.

4. Memperoleh kesempatan meningkatkan kompetensi.

5. Memperoleh dan memanfaatkan sarana dan prasarana belajar.

6. Memberikan penilaian dan ikut menentukan kelulusan, penghargaan, dan atau

    sanksi pada peserta didik.

7. Memperoleh rasa aman dan jaminan keselamatan.

8. Kebebasan untuk berserikat dalam organisasi profesi.

9. Berperan dalam menentukan kebijakan pendidikan.

10. Kesempatan untuk mengembangkan dan meningkatkan kualifikasi akademik dan

      kompetensi.

11. Memperoleh pelatihan dan pengembangan profesi.

 

Ragam Guru

 

 

  1. Guru PNS

Guru PNS adalah guru yang sudah brstatus pegawai negeri yang digaji oleh pemerintah RI dan Pemda Kota/Kabupaten, yang kisaran gajinya 2-5 juta perbulan termasuk tunjangan dan insentif. Guru ini adalah guru yang bisa di bilang guru tenang, sebab telah di akui negara, tinggal menunggu naik pangkat dan menjadi pejabat

  1. Guru Bantu

Guru Bantu adalah guru yang berstatus setengah pegawai negeri yang digaji oleh pemerintah RI, gajinya sekitar 1-2 juta rupiah perbulan, termasuk tunjangan dan insentif. Guru ini adalah guru yang bisa dikatakan guru antara ada dan tiada karena lagi menunggu giliran menjadi PNS

  1. Guru Kontrak

Guru Kontrak adalah yang bersetatus antrean untuk menjadi PNS yang digaji oleh pemda kota/kabupaten, gajinya sekitar 500 ribu sampai 1 juta termasuk tunjangan dan insentif. Guru ini dapat juga di katakan Guru Hanyut (GH), sebab jika guru bantu di angkat menjadi PNS maka guru kontrak juga ikut terbawa arus.

  1. Guru Tidak Tetap (GTT)

GTT adalah guru yang paling kaya dengan sebutan, antaralain; Guru Tidak Tetap (GTT), Guru Honor Murni (GHM) dan mungkin suatu saat nanti akan berubah dengan predikat baru yaitu Relawan Honor Seadanya (RHS) atau Guru Yang Terlupakan (GYT). Guru ini dapat juga dikatakan Guru pasrah, sebab sering terlewatkan, contoh dalam hal usulan untuk mendapatkan insentif atau tunjangan harus melalui usulan kepala sekolah dan itupun terkadang tidak tepat sasaran bahkan terkesan pilih kasih juga tergantung IP (Ilmu Pendekatan) bukan berdasarkan IP (Indeks Prestasi). Namun guru ini tidak dapat berbuat banyak SK tugas hanya dari kepala sekolah dan bisa di berhentikan kapan saja, honorpun tergantung, antara 50. ribu hingga 200 ribu,tergantung jam mengajar, kecuali yang mendapat tunjangan atau insentif.

            Dari aneka ragam guru di atas dapatlah kita simpulkan bahwa guru hanya di tuntut memenuhi kewajibannya namun tidak di imbangi dengan pemberian haknya. Dengan banyaknya setatus guru akan menimbulkan kesenjangan dan tidak menutup kemungkinan akan terjadi kecemburuan sosial, dan hal ini sangat tidak mendidik, melatih dan tidak membimbig. Mutu pendidikan tidak tergantung setatus guru contohnya banyak kita temukan guru honor mampu membimbing siswanya hingga mencapai prestasi gemilang, begitu juga sebaliknya, tidak jarang kita temukan guru PNS, Habis Jam “Pulang” (HJP) sehingga tidak mengetahui perkembangan peserta didiknya secara mendalam.

Tiga Kemungkinan  Alternatif

 

            Demi perubahan pendidikan ke arah yang lebih baik harus ada tindakan nyata dan tegas yang di lakukan di antaranya ;

  1. Tempatkan orang-orang yang memang benar-benar memahami, mengerti, ahli di bidang pendidikan, bukan hanya sekedar colok saja melainkan berdasarkan nilai prestasinya. Dan akan lebih buruk lagi jika orang-orang yang menempati jabatan strategis di dunia pendidikan itu adalah orang-orang yang di dasari oleh ilmu pendekatan semata bukan berdasarkan prestasi.
  2. Tenaga pendidik yang terjun langsung di lapangan seharusnya selain ahli, berprestasi dibidangnya juga sebaiknya enerjik dan lincah, tujuannya untuk memperlancar proses menjalankan program pendidikan yang bermutu. Bukan orang-orang yang sebentar lagi akan pensiun atau lansia.
  3. Jika ada tenaga pendidik yang melanggar kode etik kependidikan maka harus segera di tindak lanjuti dan penangan segera, tujuannya adalah menghindari berlarut-larutnya masalah pendidikan. Tidak seperti sekarang ini, pemberian sanksi terhadap tenaga pendidik yang melakukan pelanggaran sangatlah lamban, ini disebabkan oleh birokrasi yang berliku-liku dan hasilnyapun harus berliku-liku.  

     

Demikian, semoga ada manfaatnya dan semoga pendidikan yang kita dapatkan di Indonesia tercinta ini akan semakin bermutu dan mempunyai sistem pendidikan atau kurikulum yang utuh. Bagi Guru Tidak Tetap (GTT), nyanyikanlah Himne Guru sebagai lirik kebersamaan dan kesatuan  para GTT, supaya lirik tersebut bukan hanya sebgai pelipur lara. 

 

 

 

Banyumulek 18 Maret 2009

 

 

 

 

Satriawan Al Bayani

 

GTT Bimbingan dan Konseling SMAN 2 Labuapi. Lombok Barat

 

 

 

 

           

Artikel

02 giu 2009

BIMBINGAN DAN KONSELING

 

DI SEKOLAH

 

 

26 Februari 2009

           

 

 

 

Bimbingan :

 

            “Proses pemberian bantuan (process of helping)

 

Kepada individu agar mampu memahami dan menerima diri dan lingkungannya, mengarahkan diri, dan menyesuaikan diri secara positif dan konstruktif terhadap tuntutan norma kehidupan ( agama dan budaya) sehingga mencapai kehidupan yang bermakna (berbahagia, baik secara personal maupun sosial)”.

 

Konseling :

 

               “Proses interaksi antara konselor dengan klien/konselee baik secara langsung (tatap muka) atau tidak langsung (melalui media : internet, atau telepon) dalam rangka membantu klien agar dapat mengembangkan potensi dirinya atau memecahkan masalah yang dialaminya”.

 

            Tujuan bimbingan konseling di sekolah  adalah Memandirikan peserta didik dan mengembangkan potensinya secara optimal. Sedangkan fungsi bimbingan Konseling adalah :

 

  1. Fungsi Pemahaman : Pemahaman diri dan lingkungan

     

  2. Fungsi Pencegahan : Pemecahan Masalah yang di hadapai peserta didik

     

  3. Fungsi Pengentasan : Pencegahan masalah

     

  4. Fungsi Pemeliharaan dan Pengembangan : Pemeliharaan dan pengembagan bakat minat peserta didik

     

  5. Fungsi Advokasi : Pembelaan atas hak peserta didik.

     

Miskonsepsi Bimbingan  & Konseling (BK)

 

    1. BK disamakan saja Dengan  atau dipisahkan sama sekali dari   pendidikan.

       

    2. Konselor sekolah dianggap polisi sekolah

       

    3. Konselor sekolah dianggap semata-mata proses pemberian nasihat

       

    4. BK dibatasi pada hanya menangani masalah  yang insidental

       

    5. BK dibatasi pada klien tertentu saja

       

    6. Konselor harus aktif pihak lain pasif

       

    7. Pekerjaan BK dapat dilakukan oleh siapa saja

       

    8. Guru BK sebagai  keranjang sampah

       

    9. Menyamakan BK dengan pekerjaan dokter dan psikiater

       

    10. Memusatkan usaha BK pada Intrumen Non tes saja

       

Dan lain-lain.

 

Jika kita kaji pengertian, tujuan dan fungsi bimbigan dan konseling di atas tentu kita akan menyimpulkan bahwa tugas Guru BK Sangat berat dan tidak bisa di kerjakan oleh semua guru atau tenaga pendidik lain, namun kenyataan di lapangan sangat jauh berbeda, banyak kita temui Guru agama, sarjana teknik dan bahkan kepala sekolah menjadi guru BK, yang  bukan berlatar belakang pendidikan BK dengan tujuan hanya untuk mengisi kekosongan guru atau bahkan untuk menambah jam mengajar, ini jelas mengacaukan tujuan dan fungsi BK yang sesungguhnya sehingga hasil yang di dapatpun seadanya dan kesan terhadap guru BK-pun menjadi seadanya lebih ironis lagi guru BK di anggap kurang kerjaan karena dilaksanakan oleh yang bukan ahlinya.

 

Begitu banyak masalah yang di hadapi guru BK belum lagi tugas pokok yang selalu menanti setiap saat mulai dari sekolah, rumah siswa dan tidak jarang menjadi PR bagi seorang pembimbing dan begitu banyak penilaian tentang kinerja guru BK sehingga menuntut Guru BK lebih menunjukkan hasil yang lebih di percaya agar  kesan negative tentang BK dapat di minimalisir dan supaya peroses pemberian  bimbingan dapat berjalan dengan baik, mari kita tepis semua penilaian miring tentang BK dengan hasil Yang sempurna. Harapan ; Guru BK dapat di fungsikan sesuai dengan fungsi Bimbingan dan Konseling yang sebenarnya.

 

Terimakasih semoga ada manfaatnya

 

 

 

Sumber Bacaan: “Materi PLPG 2007.M.A Muazar Habibi,S.Psi.,Psi.,M.Pd.dkk

 

 “Materi Sosialisasi BK 2006. Sugeng Prayoga, SPd”

 

 ”Panduan Bimbingan Dan Konseling di sekolah 2004”  

 

 

 

 

 

 

Banyumulek Kamis 26 Februari 2009

 

 

Satriawan Al Bayani, S.Pd

GTT Bimbingan dan Konseling SMAN 2 Labuapi. Lombok Barat

 

           

 

 

Latest posts

My favorit links